Thursday, 14 January 2016

Taining! Training!!!

Melakukan training lagi setelah beberapa bulan sibuk dengan kuliah materi di Teater Satu sedikit berat rasanya. Berat badannya sebenarnya hihi... Tubuh yang lama tidak bergerak harus mulai bergerak lagi. Seminggu ini kami memulai training untuk kelenturan tubuh.Teater Satu bahkan mendatangkan pelatih dari luar yaitu Surya yang seorang atlit silat dan penari. Training dimulai dengan melakukan pemanasan dipimpin Surya. Pemanasan kali ini durasinya lebih panjang dibanding dengan yang biasa kami lakukan ketika dipimpin oleh Gandi, guru olahraga yang juga aktor di Teater Satu. Selesai pemanasan kami lari selama 15 menit dilanjutkan dengan melakukan beberapa gerakan yoga yang sangat sulit seperti "Plank". Lari 15 menit saja terasa berat sekali melakukannya belum lagi ditambah plank 45 detik x 3 masing-masing untuk depan, kanan dan kiri. Berat sekali rasanya menobang tubuh sendiri, berkali-kali aku tak kuat menahan tubuh selama 45 detik, baru 15 detik saja sudah ambruk, lalu kuangkat lagi tubuhku. Berkali-kali Surya mengingatkan kepada kami untuk bertahan agar melampaui diri sendiri. Mungkin karena baru mulai training lagi jadi terasa berat, akh! Tak ada pemakluman, Training tetap training! begitu gumamku dalam hati, kalau dimaklumi terus mah tidak akan pernah maju.

Beres melakukan gerakan diatas kami lanjut dengan masuk ke dasar silat yaitu melatih kuda-kuda. Melatih kuda-kuda ke depan, kanan dan kiri secara sempurna. Gerakan jenis ini tak kalah berat dibanding sebelumnya. Tarikan otot paha yang sangat kencang merupakan penyebab tak kuat menahan stak gerakan kuda-kuda selama 45 detik x 3 untuk depan, kanan dan kiri. Lagi-lagi Surya mengingatkan kami untuk melampaui batas kemampuan kami. Dia meminta kami memukul paha apabila terasa mulai tak tahan melakukan kuda-kuda, asal jangan menyerah dan berdiri.


Sesi terakhir dari training adalah copying.. Sebuah bentuk gerakan yang melatih fokus pikiran, emosi dan fisik ini diwajibkan selalu kami lakukan setiap hari. Gerakan yang dilakukan oleh dua orang dan salah satu mengikuti gerakan telapak tangan lawan. Fokus sangat penting disini. Aku merasakan seperti ada energi yang saling mentransfer setiap kali melakukan bentuk ini. Ketika aku berpasangan dengan Baysa apalagi, ada hawa panas yang munguap begitu terasa, ada energi yang begitu besar matanya yang seperti akan di salurkan melalui telapak tanganku dan sebaliknya. Tubuh terasa segar bugar setelah selesai training. Menyenangkan!



Picts taken from: Google



Monday, 26 October 2015

Apakah Proses Kreatif itu?

Pertanyaan seperti ini bisa timbul bagi sesiapa yang mengunjungi blog saya ini. Apa si maksud Mbak Vita ini kok kasih judul blognya Catatan Proses Kreatif ? ternyata arti yang saya sudah yakini itu benar dari makna "proses kreatif" bisa memiliki makna yang lebih dalam dan sedikit filosofis.

Semalam di Sanggar Teater Satu kami belajar tentang apa itu proses kreatif. Sebelum semalam, saya hanya tau kalau proses kreatif itu adalah proses dimana kita mencipta suatu karya, apa kesulitan dll. Semalam kak is menjelaskan bahwa proses kreatif itu sendiri adalah keberanian kita menempatkan diri untuk terus-menerus berada dalam situasi tegang menghadapi tantangan. Dalam proses kreatif itu ada tahapan atau levelitas yang harus dilalui oleh seniman/ilmuan dsb. agar tidak berhenti di satu level yang nyaman. Benar, bahwa tiap level memiliki tantangan, ujian, atau kesulitan yang berbeda dan terus meningkat seiring meningkatnya level kita. Apabila kita merasa nyaman, aman, tentram berada di satu level tanpa mencari atau menempatkan diri kita di dalam tegangan tantangan berarti kita sudah mencapai level The Confort Zone atau zona nyaman. Di zona nyaman ini kita akan menjalani proses tanpa ada tantangan, jadi yaa adem ayem saja tanpa kesulitan, dan di titik itu pengetahuan dan kemampuan kita juga akan mandek dan tidak berkembang, bahkan bisa jadi menyusut. Kehidupan seperti tidak bergerak, tak ada gejolak, medioker. Pakde' Ariestoteles juga mengatakan bahwa alam semesta ini tidak menyukai kehampaan "Nature Abhors a Vacuum" kehampaan yang dimaksud disini bukan kosong tanpa isi, tetapi kehidupan yang berhenti dan tidak bergerak. Jadi kalau kita terus mencipta dan bergerak berarti kita mengikuti kodrat alam.

Berdasarkan pelajaran tentang proses kreatif ini, ada hal yang juga sangat penting di sampaikan Kak Is semalam, yaitu tentang dua tipe seniman yang sering sekali kita jumpai dan gentayangan di sekitar kita. Seniman pertama adalah seniman status. Seniman tipe ini adalah seniman yang menjadikan  kenyamanan, kepastian, kemapanan, status, dan materi sebagai parameter kesuksekannya. Lalu diantara banyak parameter itu ia hanya menyelipkan karya sebagai parameter di tempat yang terpenil, nyempil, sedikit saja. Seniman Jenis ini jelas akan marah atau uring-uringan kalau doi gak diundang di fetival sastra internasional, diskusi sastra, pembicara dll. Tipe seniman yang kedua adalah seniman yang menjadikan karya sebagai parameternya. Seniman jenis ini akan selalu memikirkan karyanya bukan tentang pandangan orang lain terhadap diri dia secara individu, mereka akan terus menerus memeriksa karyanya dan belajar mencipta karya yang baik melalui proses kreatif itu tadi. Seniman jenis ini akan hidup jiwanya, merasa utuh dan damai dirinya ketika sedang gelisah berkarya bukan ketika ia dielu-elukan dan dipuja-puja oleh penggemar dan media atau mendapat jempol banyak di status facebooknya. hihihi...

So, tipe seniman jenis apakah kita???

Seperti kata Om Jalaludin Rumi "Lebih Baik Aku Berperang Dengan Pedih Daripada Bersantai, Di Jalan Ini Biarlah Aku Ditempa Dan Ditantang Terus"

Thursday, 8 October 2015

Apa Yang Paling Kurindu dari Proses Teater?

Kalau suatu hari aku sudah tak lagi berteater dengan alasan yang pastinya sangat sulit untuk kuterima, misalnya tubuh yang sudah tak kuat lagi mengendarai motor atau menyetir mobil atau keadaan yang memaksaku pindah ke tempat yang jauh atau dekat, apa kiranya yang paling aku rindukan dari proses berteaterku ini? tiba-tiba pertanyaan itu menghampiriku malam ini. Kosong.

Bukan, bukan bagaimana tegangnya saat akan pentas, susahnya mencari akting yang pas untuk peran, tepuk tangan dan pujian penonton,  kritik dan ejekan penonton, menganalisa dan  menghapal naskah, mencari subtek, beradu argumen dengan teman, atau perjalanan tour pentas ke berbagai kota, melainkan perjalanan pulang dari sanggar kerumah. Kenapa? Apa-apa yang aku sebutkan diatas itu memang pasti akan aku rindukan, tapi perjalanan pulang dari sanggar ke rumah itulah yang paling kurindukan sepertinya sekarang ini yang kupikirkan, bisa saja berubah sebulan atau setahun lagi. 

Rumahku memang paling jauh dan paling rawan begal dibanding teman-teman lainnya. Aku juga tidak pernah merasa iri dengan teman-temanku yang rumahnya dekat dengan sanggar. Dengan jarak yang kurang lebih 30 KM dan letaknya di luar kota Bandar Lampung sebenarnya aku sendiri tak pernah merasa takut atau berpikir akan ancaman begal dll, bukan sombong, tapi ada hal besar yang bisa mengalahkan rasa takutku itu. 

Sepi jalanan, dingin angin, toko-toko sudah tutup, dan perasaan yang berkemelut yang tak tunai didalam diriku selalu menjadi kekuatan atau energi untuk  perjalanan pulang ku ini. Setiap hari memiliki rasa yang berbeda-beda. Dalam perjalanan ada perasaan gelisah  dan pikiran yang tak tunai, yang mengganjal, yang membuatku selalu ingin datang lagi esok dan kadang membuatku tak bisa tidur. Perasaan belum tuntas itu misalnya seperti ini, malam ini aku berdiskusi dan belajar tentang paragraf. Belum selesai diskusi itu sudah seperti di ingatkan selalu dengan larutnya malam. Waktu sudah hampir jam 12 malam dan pelajaran tentang macam-macam paragraf belumlah beres. Kami belum selesai memberi contoh penggabungan antara paragraf narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi dan persuasi dalam satu topik, tapi kami harus segera pulang. Pada situasi seperti itu, sungguh tak mengenakkan ketika perjalanan pulang. Di perjalanan aku memikirkan, ahh.. pelajaran belum tuntas dan besok belum tentu diulang lagi, pasti ada topik yang beda, ada pelajaran yang beda lagi, sementara pikiran masih gelisah. Contoh yang lain, ketika aku latihan "Buried Child" dan peran Selly ku coba tawarkan bentuk dan pilihan baru kepada sutradara, tapi ternyata bentuk baru itu tidak pas menurut sutradara. Dan bodohnya aku ngeyel dan tidak berterima dengan hal itu dan mengajak sutradara beradu argumen. Ketika di perjalanan pulang, pikiran dan perasaanku seperti diajak me-rewind lagi apa yang sudah  kulakukan tadi ketika di atas panggung, berdiskusi dengan teman atau sutradara. Ada penyesalan sudah melakukan kesalahan, penyadaran bahwa yang sutradara atau teman lain katakan itu benar,  ada ego yang tetap merasa tak mau kalah, ketidakpuasan dengan argumen yang dikatakan teman atau sutradara, ada rasa sakit hati karena dikritik, ada keriangan saat dipuji, ada kesenangan karena menerima pelajaran yang memang sangat dibutuhkan,  ada yang bersisa. Dalam perjalanan pulang itulah aku seperti merefleksi apa-apa yang sudah aku lakukan selama latihan hari ini, yang membuatku merasa ingin memperbaiki, menyesali, merasa kurang, merasa bodoh, merasa sombong, merasa benar, merasa sangat butuh kembali lagi ke sanggar. 

Perjalanan jauh, sendiri, sepi dan ada refleksi. Itulah mengapa aku sangat senang pada bagian itu di seluruh proses berteaterku, dan mungkin itu yang akan aku rindukan kelak. Bagiku, itu istimewa. Aku tidak tahu kenapa perasaan itu muncul ketika dalam perjalanan pulang, bukan ketika mau tidur atau mau berangkat latihan atau yang lainnya. Setelah hampir 8 tahun berteater, ternyata aku baru menyadari hal itu malam ini. Mungkin nanti kalau rumahku pindah jadi di dekat sanggar dan tidak ada lagi perjalanan pulang yang jauh, belum tentu aku merasakan hal istimewa itu. Aku harus menemukan situasi lain yang bisa menggantikannya, dan aku belum memikirkan itu apa. Karena memang tak ingin.

Tuesday, 5 May 2015

Mainkan Sasaranmu!!!! #M&T

Hari itu, ketika melihat lima menit adegan yang diulang-ulang dan  di praktekan oleh Baysa yang berperan sebagai Madekur dan Okop yang berperan sebagai Tarkeni, ada sedikit catatan yang saya tangkap dan menurut saya sangatlah penting. 

Tiap aktor harus, kudu, wajib mengetahui apa sasaran utama perannya dalam suatu adegan, supaya apa yang kita lakukan di atas panggung beralasan dan logis. Pada sesi ini, Kak is meminta Okop dan Baysa untuk melakukan adegan Madekur dan Tarkeni mengobrol setelah bersetubuh di kompleks pelacuran. Kak Is meminta mereka menemukan sasaran utama adegan masing-masing. Maka ketemulah sebuah sasaran utama adegan mereka :

Sasaran utama Madekur : membujuk Tarkeni agar mau diajaknya menikah
Sasaran utama Tarkeni  : Menolak ajakan nikah Madekur

Pada adegan itu, mereka harus memainkan adegan sesuai dengan sasaranya. Madekur harus terlihat usaha kerasnya membujuk Tarkeni agar mau diajak nikah, dan agar sasaran utama Madekur berjalan lancar Tarkeni juga harus memainkan dengan baik sasaran utamanya, yaitu terlihat menolak ajakan Madekur untuk menikah. Jadi masing-masing memainkan sasarannya agar saling menguntungkan dan adegan itu tampak logis dan pas. Kalau salah satu dari mereka tidak memainkan sasaran utamanya dengan baik, maka sasaran utama lawan main pun tidak berjalan dengan baik dan adegan itu tidak akan tampak meyakinkan. mengapa seperti itu? karena ada aksi-reaksi yang tampak dan bekerja dengan logis disana. Misalnya seperti ini, ketika Madekur merayu Tarkeni agar mau di ajak menikah, ada aksi yang dilakukan Madekur disana dan itu harus direspon (reaksi) dengan baik oleh Tarkeni yang menolak diajak nikah, jadi, agar adegan Madekur mengajak merayu terkeni itu meyakinkan, Tarkeni harus bereaksi menolak yang sesuai dengan sasarannya. Masing masing harus memainkan sasarannya supaya sama-sama tercapai. 


Monday, 27 April 2015

Metode lima menit adegan #M&T

Ada yang paling mendebarkan sekaligus memicu saya untuk terus belajar dan mencari, yaitu penerapan metode lima menit adegan yang diciptakan sendiri oleh Kak Is. Apakah itu? Metode lima menit adegan adalah metode dimana waktu menjadi patokan dengan cara mengulang adegan yang berlangsung selama lima menit dan terus-terusan diulang  sampai jadi. Metode ini biasa digunakan untuk menghemat waktu dengan tetap memperhatikan detail.


Metode ini bisa sangat digunakan untuk mereka yang memiliki jam latihan sedikit dan sudah dikejar deadline. Misalnya durasi pertunjukan satu jam, dan setiap hari memiliki waktu latihan selama 3 jam, dan waktu latihan tersisa tinggal satu bulan. Setelah proses casting dan reading selesai, mulai dengan masuk ke blocking. Bagi seluruh durasi pertunjukan menjadi lima menit, itu berarti menjadi 12 bagian dari durasi 60 menit tersebut. Setiap hari, coba dan matangkan satu bagian. Lima menit adegan diulang-ulang terus sampai matang selama tiga jam. cukup? pasti cukup! keesokan harinya bagian selanjutnya.. dan seterusnya sampai seluruh bagian menjadi matang, dengan waktu 12 hari. selanjutnya jahit seluruh bagian dari adegan tersebut menjadi suatu pementasan yang unity. Lima hari cukup untuk mengulang keseluruhan pertunjukan yang sudah dijahit rapi. Selama lima hari latihan dari awal sampai akhir sambil memasukan musik dan mencoba kostum. Singkat bukan? kita hanya butuh waktu 17 hari untuk membereskan keseluruhan adegan.


Yang sangat menguntungkan juga dari metode ini adalah detail yang tercipta. lima menit adegan yang selalu diulang selama sehari sesi latihan sungguh akan mencuri perhatian. Sutradara serta aktor akan lebih memperhatikan detailnya karena terfokus ke satu titik yang akan terus diulang. Kekeliruan akan tampak dan aktor serta sutradara yang menyadari itu akan segera memperbaikinya di waktu itu juga, tanpa menunda, jadi langsung diesekusi sampai pada akhirnya adegan itu matang.

Pada garapan Madekur dan Tarkeni kali ini, Kak is mencoba menerapkan di awal-awal latihan. Sayangnya hanya dua kali latihan yang diterapkan. Waktu itu adegan Madekur selesai bersetubuh dengan Tarkeni di kompleks pelacuran pada hari pertama dan adegan ayah-ibu kembar di hari berikutnya. Sesungguhnya metode ini sangat berjalan dan efektif, kenapa, karena saya merasakan sekali kak is mendirect dengan detail, tiap gerak gerik badan bahkan bibir dan bola mata sungguh diperhatikan benar atau tidak, sesuai atau tidak dengan subteks yang ada di naskah. Memang, saya melihat beberapa teman, termasuk saya juga merasa sedikit kesulitan karena harus diulang, ketika sedikit saja tidak pas, atau ketika lawan main kurang cekatan, harus mengulang lagi, begitu terus sampai dapat yang pas. Tapi buat saya, sensasinya itu asik, kami jadi fokus dan tidak main-main, belum lagi tiap malam harus mencari akting yang pas untuk adegan selanjutnya. Jadi tidak ada waktu untuk leha leha dan bersantai ria. Saya sedang meminta Kak Is untuk meneruskan menggunakan metode ini. semoga!

Menurut saya, metode ini akan berjalan lancar dan mulus dengan catatan begini, Aktor sudah beres menganalisa naskah, karakteristik peran  dan mengatasai segala masalah dasar keaktoran seperti tempo, irama, imajinasi dll. Selain itu, proses reading juga sudah beres yang itu artinya aktor juga sudah menemukan subteks, sasaran adegan, dan segala analisa yang ada di teks. Setelah semua sudah dikunyah dengan baik oleh aktor, barulah metode lima menit adegan ini bisa mulussss...... Saya kira itulah mengapa Kak Is tidak melanjutkan metode lima menit ini, karna kami belum mengunyah betul apa yang aktor butuhkan untuk memulai metode tersebut. Istilahnya, modal kami belum cukup, harus terus mencari. Padahal, sepertinya metode ini sangat ampuh!! tapi kami belum bisa menerapkan dengan baik.

Monday, 20 April 2015

Menyusun Biografi Peran #M&T

Lanjut tentang proses Madekur & Tarkeni......

Untuk mengembangkan karakter kita dalam setiap peran, kita harus memiliki biografi dari peran itu. Agar ada sejarah dibalik apa yang kita lakukan dan kita bicarakan diatas panggung. Latar belakang karakter harus terbangun dengan apik sesuai dengan naskah atau Given Circumstance (Situasi-situasi terberi yang ada dalam teks berdasarkan sistem Stanylavski)  yang ada dalam teks. Kita tidak boleh mengarang bebas dalam membuat biografi, harus dicocokan atau disesuaikan dengan apa yang terberi dalam naskah, yang sesungguhnya menurut saya itu adalah sebuah petunjuk agar kita bisa mengembangkan biografi itu sendiri. Berikut akan saya share tentang biografi dari peran saya sebagai "Marni" (Ibu Tarkeni).

Peran : Ibu Tarkeni

Marni Wati(50) menikah dengan suaminya, Rahman(57) pada saat usianya 18 tahun. Pada masa itu umur segitu sudah disebut perawan tua, jadi mau tidak mau Marni harus menerima lamaran Rahman Sukoco, seorang pemuda anak teman bapak Marni. Awalnya perempuan yang kalauvberjalan langkahnya kecil-kecil tapi cepat ini tidak cinta dengan Rahman, tapi karena selalu bersama yaa lama kelamaan jadi sayang dan melayani suaminya. Marni dan Rahman dikaruniai 5 orang anak, dua laki-laki dan tiga perempuan. Tarsono(30tahun), Tarmizi(25), Tarkeni(21), Tarniah(18), dan Shinta Sari(15). Marni Wati anak tunggal sehingga semua warisan keluarga untuk ia dan keluarganya. Ada rumah dan sawah. Tetapi nasibnya tidak baik, Rahman tidak getol dan pandai bertani, setiap nanam gagal, akhirnya sawah di gadai untuk memenuhi kebutuhan dan tidak sanggup membayar gadai dan melayanglah sawah sedikit demi sedikit, sampai sekarang akhirnya kandas. Untuk memenuhi kebutuhan, Tarsono dan Tarmizi mengolah sawah orang lain kadang-kadang dibantu oleh Rahman, tetapi hasilnya sangat pas-pasan untuk makan seluruh anggota keluarga dalam rumah tua tetapi luas itu. Tarsono, istri, dan ketiga anaknya tinggal disitu, begitu juga istri dan seorang anak dari Tarmizi. Mereka hidup satu atap dengan kondisi yang pas-pasan sekali, pas untuk makan dan tidur. Mereka tinggal di lingkungan pedesaan yang mayoritas orang tani dan kebon. Di sebuah desa, di Pekalongan. Mungkin keadaan keluarga yang seperti itulah yang membuat Tarkeni ingin merantau ke Jakarta. Marni sehari-hari hanya menjadi ibu rumah tangga dan meladeni anak serta cucunya. 


Marni memiliki penyakit jantung karena keturunan dari bapaknya yang meninggal karena penyakit yang sama. Marni suka keluar keringat banyak di dahi, tangan dan lehernya. Ia juga memiliki rasa cemas yang berlebihan, seperti yang terjadi terhadap Tarkeni. Ketika ia dikejutkan oleh sesuatu, kadang bisa sampai pinsan. Perempuan berambut panjang itu nurut dengan suaminya, dan sabar tetapi bukan tidak berdaya. Ia selalu meladeni segala keinginan suaminya. Ia memiliki kehawatiran yang berlebihan dengan Tarkeni, itu artinya ia sangat open dan peduli dengan seluruh keluarganya. Keluarga ini beragama islam. Suku asli Jawa, dan mereka juga tinggal di desa yang hampir semua penduduknya orang Jawa.



Begitulah sedikit cerita tentang biografi singkat sebuah peran. Menurut saya ini masih kurang sangat banyak untuk sebuah biografi peran, kalau bisa sampai warna kesukaan, makanan dan minuman kesukaan dll. Sebegitu pentingkah memiliki biografi peran? Ya! Sangat penting! karena ini adalah modal awal seorang aktor dalam memainkan peran, agar akting yang dilakukan di atas panggung meyakinkan dan tidak kosong imajinasi. Misalnya seperti ini.. tidak ada adegan atau dialong yg menceritakan tentang anak-anak atau cucu dari Marni, hanya ada dialog bapak (Rahman) tentang memiliki anggota keluarga berjumlah 11 orang, Tapi disitu saya coba mencari kemungkinan, kira-kira 11 orang itu siapa saja dan mengapa tinggal satu rumah dll. Jadi ketika Bapak mengucapkan dialog itu dan si Ibu hanya meng-iyakan saja,  ada imajinasi yang muncul pada saat itu, Bukan hanya iya iya saja. Akan beda hasilnya ketika kita membuat biografi peran dan tidak. Ketika membuat biografi peran, dengan sendirinya peran itu menjadi hidup seperti seseorang yang kita kenal dan ada latar belakang atau cerita yang kita sebagai seseorang yang memerankan peran itu mengenal dengan baik pula.

Manfaat yang lain adalah munculnya kebiasaan fisik yg kadang terencana atau tidak muncul diatas panggung. Misal seperti ini, Marni adalah seorang ibu yang sabar, sehingga timbul pikiran pikiran seperti ini "oh, marni ini penyabar, kira kira apa yang dilakukan seorang ibu yang penyabar melihat anaknya ribut atau berdebat dengan suaminya, atau ketika melihat suaminya marah apa yang dilakukan dan bagaimana cara menunjukan kesabaran itu sehingga tampak dan meyakinkan di atas panggung" begitu lah... kalau bisa malah timbul ide seperti ini, bagaimana cara menunjukan kesabaran yang khas milik Marni dan tidak pasaran atau klise. Jadi itu adalah akting otentik milik si Marni.

Dalam menyusun biografi pun kita harus tetap mencari sesuatu yang sedikit ilmiah dan logis, Supaya tidak menjadi asal. Misal : situasi terberi tokoh Marni yaitu memiliki penyakit jantung. Nah, saya harus tahu apa penyebab penyakit jantung, lalu apa gejalanya, apa yang terjadi kalau kumat dll. Mungkinkah seseorang yang bisa dibilang hidup pas-pasan memiliki penyakit jantung? ya mungkin saja, tapi itu jarang terjadi, sehingga saya buat kalau penyakit jantungnya keturunan dari bapaknya yang dulunya orang "punya". Beberapa cerita kita susun secara logis sesuai teks yang ada, supaya tidak rancu dan malah membingungkan penonton. Ada dialog bapak yang mengatakan tentang sesuatu lalu dia menyebut "cangkul". Nah, dengan dialog cangkul itu, kira-kira profesi apa yang tepat untuk suaminya itu? tentu saja yg berhubungan denga cangkul. Jadi sekecil atau sesedikit apapun dialog yang ada di teks, bisa jadi itu sebuah petunjuk yang bisa kita kembangkan dalam menyusun biografi peran. Terus mencari petunjuk-petunjuk pengarang dengan cara membaca berulang-ulang teks itu sendiri dan menganalisa tentunya.

Itulah sedikit cerita yang bisa saya share tentang biografi sebuah peran.

Sunday, 19 April 2015

Mengenal Tempo Tubuh pada Aktor #M&T

Seorang aktor yang baik harus memiliki kelenturan pada tubuhnya, karena tubuh adalah alat ekrpresi utama bagi seorang aktor. Salah satu hal yang penting diperhatikan oleh aktor adalah tempo tubuhnya. Kemarin seusai pemanasan fisik Kak Is mengajak kami untuk mencoba melawan tempo tubuh. Pada garapan Madekur dan Tarkeni kali ini, akan ada bentuk tarian ngibing dan semua aktor harus ikut dalam adegan itu. Beberapa kali mencoba gerakan atau tarian ngibing sepertinya masih kelihatan memaksa, dan tidak enak dilihat. Nah, karena itu Kak Is kemarin meminta kami utuk melakukan beberapa gerakan atau tarian yang mengikuti tempo yang diarahkan atau yang ada. Mulanya Ia memukul jimbei dengan satu tempo ketukan tertentu (Ketukan yang sama dengan adegan kuda lumping pada pementasan KKYM) dan kami diminta untuk bergerak mengikuti tempo musik. Tidak ada kesulitan yang berarti, karena kami memang familiar dengan ketukan musik itu, jadi kami bergerak sesuai tempo yang ada. Setelah lima menit istirahat, kami diminta untuk bergerak lagi dengan ketukan musik yang sama tetapi tidak boleh mengikuti tempo musiknya. haaaahh!!!! yapp.... kami mulai bingung! jadi kami harus bergerak melawan tempo atau ketukan musik yang ada yang memang sudah kami kenal. Rasanya itu sulit, hehe.. tubuh ini harus selalu disadarkan untuk tidak mengikuti tempo musik itu. Sudah pernah berjalan mundur? nah, kira kira begitulah sensasinya. Tiap gerakan harus sadaaar sekali dan sesungguhnya tidak bisa menikmati musik ataupun gerakan. Yang kami pikirkan cuma gerakan yang beda tempo saja. Tapi sensasinya menyenangkan, seperti keluar dari kebiasaan rutin gitu... hehee. Latihan ini juga bertujuan untuk menghindari keterpakuan terhadap suatu gerakan. misalnya saya kalau dengar ketukan atau tempo kuda lumping, selalu saja ingin menari atau bergerak seperti adegan kuda lumping, dan ini membuat saya jadi tidak memiliki gerakan yang variatif. Melakukan gerakan yang itu itu saja kan gak enak. hehe.. Beberapa efek fisik dirasakan oleh beberapa teman akibat melawan tempo itu. Misalnya kepala sedikit pusing dll. Tetapi kami tetap merasakan keasikannya melawan arus. 

Thursday, 9 April 2015

Madekur & Tarkeni

Setelah beberapa kali gagal memainkan naskah karya Arifin C Noor, mudah mudahan kali ini tidak gagal lagi. Kami (Teater Satu) akan memainkan naskah Orkes Madun 1 "Madekur & Tarkeni" karya Mang Arifin. Tanggal dari pementasan belum bisa dipastikan, karena naskah ini ditujukan untuk studi keaktoran bagi para aktor di Teater Satu. Maksudnya studi keaktoran adalah, kami sebagai aktor harus mempelajari lebih detail kerja keaktoran yang wajib dilakukan untuk sebuah proyek pementasan berdasarkan sistem Stanilavsky. Naskah ini sebenarnya adalah jenis naskah surealis, tetapi kami mendekati beberapa dengan sistem Stanilavsky yang notabennya biasa digunakan untuk nguprek-uprek naskah realis. Mulai dari imajinasi, the magic if, menubuhkan tokoh, mendandani tokoh dll kami coba terapkan dengan lebih aktif pada garapan ini. Dengan tenggang waktu yang lumayan lama semoga saja bisa berjalan dengan baik. Selain itu, kami juga sedang membiasakan untuk melaksanakan sebuah proyek pementasan tanpa ada acuak kapan deadline untuk pentas, agar bukan pentas tujuan sebenarnya, tetapi studi dan proses itu sendiri yang penting, yang sekarang sedikit mendapat perhatian dari kebanyakan aktor. Untuk kebanyakan aktor pentas adalah tujuan paling utama, dan mengabaikan proses. Padahal justru pada proses itu sendiri, kita sebagai aktor menjadi berkembang (bila proses dilakukan dengan benar) atau malah bantat (bila proses tidak benar). Saya pun menyadari, beberapa naskah yang saya mainkan prosesnya tidak maksimal, dikarenakan oleh deadline dan mbah jenggot tentunya. hmm... semoga gangguan mbah jenggot ga begitu besar dalam proses ini, kalau hilang sih kayaknya belum bisa secepat itu, tapi semoga kalah dangan keinginan belajar. Amin. Semoga kami juga sesama aktor di Teater Satu bisa bekerjasama dengan baik dan fokus. Insyaallah saya akan berbagi proses Garapan di blog saya ini..... :)

Wednesday, 19 November 2014

KKYM ohhhh KKYM...........

Perhaps an anxiety that threatens every night, may also be a question that will be answered quickly.Ahh... I have no idea to explain it.

After rehearsal last night Kak Is ask us to  discuss about something that very important and has always been a question for me. After seeing our "Reminding Stories (KKYM)" process lately, Kak Is feel that this play is like losing a "sense" or "soul". As an actor i felt it so. I tried many times to get into the text but the "sense" like I ever felt when playing this play previously didn't come completely. And finally i got the answer last night.

Kak Is said that something that we have known well become something routine and didn't have the mystery anymore. He gave the example like this, a relationship between man and woman who very close and each of them known well all side of their partner's body even a mole under her armpit he memorized it well is a relationship that routine and monotone! That's true! because they always repeat all things continuously without something new and the most important is there was nothing hidden and so that no mystery anymore. It is like the play that will be played! We have known well about the text and often performed, all the dialogues or texts were said or expressed routinely so the soul is missing. To solve this problem is we should take a distance with the text and try to find again the meaning, the soul or the sense of the text deeply. This could be as long as we misinterpret and continuously repeated what was wrong. Kak Is asked us to dig again the meaning in that text or play.

The other problem for me is about the chemistry. I and my friends who play in this performance are seldom or even never discuss about this text lately, so that i lost the chemistry between us.I don't even know my friends feel it so or not, perhaps yes so we can fix it together! Because each of us rarely have time to talk together, I was so hesitant to discuss with them whereas the time is very limited.

Hopefully we can solve those problems and the performance run well and it will give something worthwhile to the audiences and of course for us as performers or actors! Amin


P.S : i've never felt it before, so its really hard for me to explain or even solve it! ohh.........









Kisah-Kisah Yang Mengingatkan
Teater Salihara, 2009
picts by : Witjak Widi (Salihara)


Sunday, 16 November 2014

Reminding Stories

ahh,,, very happy to blog again..


Recently, We are preparing our performance to Malaysian International Performing Art Festival in Kuala Lumpur this November. The Fest will be held on 22-26 November in Malaysia Tourism Center (Matic), and we will be there on November 21st. 

In this Fest we will perform our lovely 'Kisah-Kisah Yang Mengingatkan (KKYM)' or "Reminding Stories" written and directed by Iswadi Pratama. I'll tell little bit stories about the process of this performance. Actually we have performed it more than 3 times in some cities in Indonesia, but this is the first time for us to perform it abroad and my first time also go abroad. Very happy and excited join to this fest. 

Did u know that actually we don't have much time to do rehearsal, because we have the other event last week (Fest Teater Pelajar Nasional), so we just have 2 weeks to prepare this performance.In this limit time we try to practice well. There is a challenge in this new version of KKYM,some of the text in it are in english and some in bahasa, that's why we should remind some english text and try to express it. This is not new thing for me, because i've ever performed it in english when it performed in Ubud Writer and Reader Fest 2012, but that was only a poem that i should expressed, meanwhile in here I have 3 poems!! Woww!! some of friends like Laras and Desi are their first time play in english, we try to practice hardly for it.  

The other challenge is the member of our team are only 10 persons and the performer only 7 persons, they are me, Laras, Desi, Ka Budi, Baysa, Rarai, and Ceu Imas. This performance always play by more than 10 persons so we should try to deal with this performance that can be played by 7 persons. The other Kak Is as a director, Kak Deri as a soundman and Kak Jusmar as a lightingman.

Wish that our performance run well.... yeaaahh!!! 

Here i share some of our rehearsal pictures this week...
picts by : Gibran
























Festival Teater Pelajar Nasional (Student on the Stage)

Senang sekali bisa terlibat dalam penyelenggaraan event ini "Festival Teater Pelajar Nasional (Student on the Stage)" dan berjalan dengan sangat lancar.Festival ini diselenggarakan pada tanggal 2-7 November 2014 di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung. Teater Satu sudah berkali-kali menyelenggarakan acara ini dan saya rasa ini yang paling memuaskan, hehe. Antusias dari kalangan peserta dan penontonlah yang sangat memuaskan. Event ini diikuti oleh 15 peserta yang tak hanya berasal dari provinsi Lampung saja, tetapi juga dari luar Lampung seperti Solo, Palembang dan Bengkulu. Para peserta juga mementaskan pertunjukan mereka dengan maksimal dan beberapa bahkan memuaskan penonton yang berbondong-bondong menonton di gedung pertunjukan. Penonton yang sebagian besar pelajar juga sangat ramai sekali. Dengan harga tiket sebesar 15k mereka sudah bisa menikmati satu judul pertunjukan teater dari SMA pilihan mereka.

Selama lima hari berturut-turut fest ini menyajikan pertunjukan teater dengan tiga pertunjukan perharinya dengan berbagai judul pertunjukan. Penutupan sekaligus pengumuman pemenang berlangsung di hari Jumat. Pertunjukan mereka dinilai oleh 3 orang juri yaitu Jamaludin Latif (Jogja), Edi Suisno (Padang Panjang) dan Yani Mae (Bandung) dan seorang pengamat pertunjukan yaitu Ari Pahala Hutabarat.

Festival ini dimenangkan oleh Teater Palapa (SMA N 3 B. Lampung) sebagai grup terbaik 1, Teater Choteka (SMA Al-Kautsar B. Lampung) sebagai grup terbaik 2 dan Teater Sebelas (SMA N 11 B.Lampung) sebagai grup terbaik 3.

Berikut beberapa foto pertunjukan dari masing-masing sekolah
Pict by : Gibran
edited by : Ulunk M Rusdi (Rumah Seni Lampung)












































Ahhhh... mudah-mudahan tahun depan bisa menggelar Fest ini kembali.....
Amin. 

Wednesday, 15 October 2014

Mbah Jenggot
























Mau ngepost tentang "Mbah Jenggot" ini saja saya harus melawannya... hehe.. melawan mbah jenggot itu sendiri. Tapi akhirnya mbahnya kabur...
Apa sih "Mbah Jenggot"??
Mbah Jenggot adalah istilah yang diciptakan Kak Is untuk mengasosiasikan kata "Malas". Saya agak kurang tahu kenapa disebut mbah jenggot, mungkin karena kalau orang malas itu lebih sering tidur dan nyender ke tembok atau apa terus ngelus-elus jenggot terus sampai panjang... hehe ngarang nih..

Setiap kali kami kelihatan malas latihan, malas bergerak, malas membaca, malas menulis, dan malas-malas lainnya, pasti Kak Is menyebut kami Mbah Jenggot. Kadang kan kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain gadget dan berlama-lama ria untuk itu daripada membaca buku atau menulis. Itulah salah satu bentuk Mbah Jenggot  yang sedang berkuasa dalam diri.

"Semakin tinggi peradaban, semakin berkuasalah Mbah Jenggot" begitulah kata Kak Is.

Tepat! Semakin canggih teknologi yang diciptakan, orang-orang akan semakin malas bergerak atau melakukan sesuatu, karena semua sudah diambil alih  oleh mesin. Saya membayangkan nantinya ada mesin penggosok tubuh manusia saat mandi. Jadi yang mandi bisa cuma duduk saja sambil BBMan atau Twitteran. Yang menggosok badan, gosok gigi sampai cebok dilakukan oleh mesin. Aish!!!

Yang selalu saya ingat dari bahasan Mbah Jenggot ini adalah "Ada banyak orang lebih maju dan sukses karena kita malas. Mereka tidak ada saingan!" Kalimat dari Kak Is itu selalu saya iyakan dalam hati. Ahhh.... jauhkanlah dari Mbah Jenggot..... ia memang tidak bisa dimusnahkan, tapi bisa kita taklukan!!!

Tuesday, 14 October 2014

Tiga Metode Menulis Mantab!



Tadi malam  tidak semua teman-teman Teater Satu hadir, ada beberapa berhalangan, seperti Agung, Kak Deri, Pipit, dll. Sehabis magrib Kak is meminta kami menyiapkan flowchart untuk belajar. Kak is mengatakan bahwa kami harus mencatat semua hasil latihan dtau apapun agar selalu di ingat atau bisa share dengan orang lain melalui tulisan itu. Kak Is mengutip kata-kata Socrates “Vok Audita Perit, Littera Scripta” yag artinya suara yang diucapkan akan hilang atau dilupakan sedangkan kalimat yang ditulis akan tinggal abadi. Kami akan belajar tentang metode dalam menulis, apapun itu jenis tulisannya, baik itu esay, puisi, naskah, artikel, dll. Belum saja Kak Is memulai materi tentang metode penulisan ini tiba-tiba hujan datang sebentar dan cukup membuat kami mengambil jaket dan memakainya atau sekedar  mengusap-usap lengan dan bahu.  Kak Is kemudian memulai materinya dengan menjelaskan metode pertama yaitu:

1. Menentukan Premise

Metode ini adalah metode yang sering digunakan oleh perguruan tinggi atau sekolah-sekolah dalam tata cara menulis. Pada metode ini hal pertama yang akan kami lakukan sebelum menulis adalah menentukan ‘premise’ atau apa yang sebenarnya ingin dibicarakan dalam tulisan itu. Setelah menemukan premise fase selanjutnya adalah menentukan Pokok Pikiran Utama (PPU) dan Pokok Pikiran Penjelas (PPP). PPU bisa disebut juga dengan motif mengapa mengambil premis itu, sedangkan PPP adalah penjelasan dari PPU atau bisa juga cara yang digunakan agar sesuai dengan premise itu sendiri. PPP bisa berjumlah leih dari satu, asalkan measih berhubungan dengan premise itu sendiri. Kak Is meminta kami memberikan contoh premise dalam kehidupan sehari-hari. Gibran adalah yg pertama kali harus memberikan contoh premis dalam kehidupan sehari-hari. Ia dengan lantang membacakan premisenya "Gemuk bukan berarti tidak bisa melompat". Gibran si bujang berbadan "sintal" itu memilih topik yang sesuai dengan pengalaman dia berlatih olah tubuh menggunakan metode biomekanik. Sontak kami tertawa lepas mendengar itu. Premise yang sangat tepat untuk Gibran. 

Premise                   :  ‘Gemuk bukan berarti tidak bisa melompat’
PPU                        : ‘Banyak orang gemuk yang tidak bisa melompat’
PPP                        : ‘latihan yang rutin dapat meringankan tubuh’

Setelah mencari tiga unsur di atas maka mulailah menulis. Bagaimana proses Gibran bisa melompat dengan ringan. Ada cerita didalamnya, apakah keputus asaan yang ia alami karena pertama mencoba melompat gagal, apakah bagaimana ia menumbuhkan keberanian untuk melompat, dll.  Fungsi premise disini adalah alat kontrol kita agar tetap pada garis merah si cerita. Jadi cerita itu ada tujuannya, ada gambaran apa isi dari tulisan itu setelah membaca premise.

2. Metode Pilih 1 Kata (berpikir dari kerangka konflik)


Metode ini adalah metode hasil ciptaan Kak Is sendiri. Metode yang sangat menarik menurutku. Kak Is meminta kami memilih satu kata  (kata apa saja) dan memberi kata itu sebuah konflik. Semisal seperti ini :







Dari gambaran diatas kata “Jilbab” adalah satu kata yang dipilih oleh Reni , dari situ Kak Is mulai meminta kami memasukan konflik dari kata jilbab itu sendiri. Lagi-lagi Reni yang diminta memasukan konflik, dia memilih kata “gerah” dan setelah itu masukan akibat-akibat dari konflik itu dan seterusnya. "kabur dari rumah" bukanlah akhir dari cerita, tetapi bisa sebagai puncak dari konflik itu sendiri. kemudian si penulis bisa melanjutkan dengan memberi resolusi dan solusi agar cerita berakhir dengan halus. Metode ini bisa dengan cepat membuat saya berimajinasi. Bayangkan hanya dengan memilih satu kata saja kita bisa memiliki sebuah cerita yang sangat menarik. Kami diminta berfikir dalam kerangka konflik. Masukkan konflik dari kata apa yang kami pilih dan buat cerita dari situ. Saya jadi ingin sekali membuat cerita misalnya dari sebuah kata "Panggung" konflik apa yang bisa terjadi dengan panggung. Mungkin saja panggung yang roboh atau panggung yang terbakar dan masih banyak lagi. Apa akibat dari robohnya panggung itu dan seterusnya. Metode yang Kak Is berikan ini membuat saya ingin sekali menulis sebuah cerita prosa seperti cerpen, naskah atau bahkan novel (semoga ga cuma wacana) hehe....

Teman-teman yang lain saya lihat juga memiliki gairah ingin menulis dengan melihat metode ini. Baysa misalnya dia memberi contoh yang lain yaitu menggunakan kata "Peran" koflik yang muncul adalah 'kurang imajinasi' akibat dari kurang imajinasi itu dia jadi tidak bisa berakting dengan baik. Akibat selanjutnya adalah sutradara marah, setelah itu ia stress karena sutradara marah dan sampai frustasi sampai ingin bunuh diri hihi. Setelah konflik memuncak ia harus menemukan resolusi yaitu dengan memunculkan fase setelah frustasi yang antara lain menemui sutradara lalu bercerita tentang masalahnya dan sutradara meminta ia membaca ulang buku pemeranan. Setelah membaca buku pemeranan dia harus melatih imajinasi sampai imajinasi tumbuh dan sampailah pada akhir cerita yaitu terciptanya pertunjukan yang bagus dengan imajinasi yang bekerja dengan baik pada Baysa. Menarik kan metodenya...... hihi...

Jam setengah sebelas malam, sudah cukup malam rupanya. Saya kira Kak Is akan menyudahi pelajaran tentang metode menulis ini, rupanya masih ada satu lagi yang sangat menarik dan menggugah kai dari kantuk yang mulai memeluk.... 


3. Memekan (Metode Meja Berantakan)

Singkatan dari metode ini sedikit menggelikan bukan? hihii... 'memekan' adalah kata yang tiba-tiba diceploskan Gandi setelah mendengar kak is menyebutkan nama "Metode Meja Berantakan". Serentak kami tertawa dan Kak Is langsung menyetujui sebutan untuk metode yang lagi-lagi diciptakan oleh Kak Is sendiri ini. Kak Is meletakan beberapa benda di atas meja benda-benda itu adalah: tas warna merah, sebungkus rokok, buku, segelas kopi, asbak dan spidol. 

"Tulislah sesuatu, boleh prosa, narasi, puisi atau apapun dari benda-benda yang berantakan di atas meja itu! sekarang!" 

Kak is meminta kami untuk menulis sesuatu dari benda-benda itu. Dalam tulisan itu harus muncul benda-benda tersebut dan menjadi sesuatu yang berhubungan, tidak boleh melompat-lompat seperti tidak nyambung, dan kami boleh menambah kata-kata yang lain. Wahh.... sebuah tantangan yang sangat seru. Tiba-tiba kami semua menjadi tergugah dan sedikit bingung mau menulis apa, tapi tak lama kemudian kami diam dan sibuk masing-masing dengan tulisannya. Saya sedikit bingung mau menulis apa, dan sampai pada akhirnya saya lebih memilih menulis sajak sajalah. Tapi tiba-tiba saya tersadar kalau di meeja itu ada spidol. haha... bingung meletakan kata spidol dalam sajak... akhh!! saya kira cuma ada 5 benda, rupanya ada spidol juga disana. Ternyata tak cuma saya saja yang baru sadar Desi pun juga begitu, dia tidak tahu kalau ada spidol disana. Untuk teman-teman yang ingin menulis prosa atau narasi mungkin tidak ada masalah, tapi saya dan desi yang berniat menulis sajak jadi agak gimana gitu. Kata Kak Is itulah tantangannya, bagaimana kata 'spidol' itu jadi tak terasa janggal dalam tulisanmu.  Makin bingunglah saya mau menulis sajak yang seperti apa. ahh sudahlah saya coba tulis sebisa saya. daaaan inilah hasilnya :

Asap sisa rokokmu masih mengepul dari asbak di atas meja kayu
Tubuhku bergeming, segelas kopi membening
Sebuah buku catatan kau ambil dari tas merah tua
Empat baris sajak tanpa judul adalah yang pertama kubaca
Masih tercium wangi tinta spidol di atas lembar tipis itu
Dadaku seperti diremas tanpa batas
Kau berlalu, malam membatu

Itulah hasil tulisanku dari meja berantakan itu. Setelah kami selesai menulis Kak Is meminta kami membacakan hasil tulisan. Akh.. tiba-tiba saya jadi kurang percaya diri. Bucek mendapat giliran pertama membaca, karena Kak Is akan meminta tolong Bucek untuk membeli beberapa bungkus sate. Rupanya Bucek bisa menulis dengan halus, hasil tulisannya  lumayan bagus. Dilanjut dengan beberapa teman yang lainnya. Laras mendapat giliran terakhir membacakan tulisanya, dia seperti malu-malu dan tidak percaya diri. Padahal setelah ia baca ternyata hasilnya bagus. Menurut penilaian Kak Is semuanya lulus dan berhasil menulis dengan baik. Ada yang berupa narasi seperti Okop, Reni dan Gibran. Ada yang puisi seperti Bung. Sementara saya ternyata jenis tulisanya berupa puisi yang prosaik. Saya juga punya contoh hasil tulisan teman saya Desi yang menurut Kak Is prosa personifikasi:

Laki-laki tua meletakan tas merah tua dengan buku-buku usang di atas meja. Sebentar ia bergegas mencari spidol warna. Hendak ia tuliskan kisah tentang abu rokok yang tak utuh pada asbaknya, ampas kopi yang tersisa pada gelasnya. Laki-laki tua, tak hendak ia tuliskan kisah asmara padanya. 

Itulah hasil tulisan Desi, bagus kan? 
Kak is tidak menduga ternyata beberapa teman yang tidak terbiasa menulis jadi bisa menulis dengan baik, seperti Desi, Gibran, Baysa misalnya. Kak Is juga tidak melihat ada kejanggalan dalam meletakan kata spidol di setiap hasil tulisan saya, Desi dan teman-teman yang lain. Kami semua berhasil menulis menggunakan memekan ini!

Menurut Kak Is, metode ini membimbing imajinasi kami sekaligus membebaskannya. Memaksa kami menggunakan kata-kata yang tersedia dan menghubungkannya dengan apik. Metodi yang unik tapi dahsyat menurut saya.


Itulah tiga metode menulis yang Kak Is berikan semalam. Saya menyimpulkan sendiri dan merasakan bahwa metode pertama saya masih agak bingung dan tidak membuat saya tertarik untuk menulis apapun, mungkin karena ada aturan-aturan dan lebih bersifat tetap.  Metode kedua menggugah saya dan membuat saya ingin sekali menulis prosa seperi novel, cerpen, dll. Sementara metode yang terakhir membuat saya ingin sekali menulis puisi atau bersajak rialah. Pendapat sayapun di iyakan oleh Kak Is. Ia berkata bahwa metode pertama lebih banyak digunakan untuk menulis artikel, esay dll. Metode kedua lebih ke prosa sementara metode terakhir lebih ke puisi. Metode yang diciptakan Kak Is lebih menarik karena langsung bisa jelas dipraktekan, membebaskan kami menuangkan ide dan tidak ribet. Ada tantangan disana.

Tak terasa sudah setengah dua belas malam. Ahh.. masih segar rasanya mata ini. Pelajaran ditutup dengan makan sate bersama-sama sambil ngobrol santai. Tepat jam dua belas saya memutuskan pulang dengan on fire dan tidak sabar sekali ingin menuliskan proses belajar ini di blog saya.  Yeaay!!!

Aktor:
Desi Susan, Vita Oktaviana, Laras Shinta, Gandi Maulana, Baysa, Nobokop, Bung Rico, dan Gibran.




Menafsir Dengan Sederhana

Senang sekali semalam kak is memberi kami materi tentang hermeneutik. Sebenarnya tidak keseluruhan hermeneutik, kak is  memberi contoh yang menurut saya sangat cerdas. Seperti ini misalnya:

Suatu hari di sebuah dinding tertulis

 "the hunter maniy"

Dari data diatas kami diminta mencari tahu:
1. Apa jenis kelamin si penulis?
2. Berapa umur si penulis?
3. Apa latar belakang pendidikan si penulis?
4. Apa pekerjaan si penulis?
5. Dalam situasi seperti apakah ia sehingga menulis seperti itu?

Bisakah kami menjawab 5 pertanyaan diatas dengan data itu? Yap!! Jawabannya kami bisa, kami mencoba mencari tahu informasi sebanyak mungkin dengan data yang sedikit. Saya sendiri mencoba mencari jawaban pertanyaan pertama dan seterusnya. Kami tidak boleh menjawab asal, harus berdasarkan analisa yg bisa diterima, seperti ini misalnya :

1. Jenis kelamin

Jenis kelamin si penulis itu laki-laki. Karena 'hunter' identik dengan laki-laki. Jadi kemungkinan besar si penulis itu laki-laki. Lagi pula ia bermaksud menulis 'pemburu uang' artinya seseorang yg sedang berjuang mencari uang, dan itu juga identik dengan laki-laki.

2. Usia

Usia bisa dipastikan sekitaran 25-35 tahun. Pertimbangannya, usia seperti itu adalah saat getol-getolnya seseorang lelaki mencari uang. Bisa juga diatas 35 atau di bawah 25 tahun. Tapi sangat tidak mungkin kalau itu dilakukan anak-anak atau remaja belia.

3. Pendidikan

Dari kata-kata yg ia tuliskan itu tampak sekali kalau dia bukan dari pendidikan tinggi. Cara penulisan menggunakan bahasa inggris yang salah. Seharusnya "the money hunter" dari penulisan salah, penyusunan kata juga salah. Jelas sekali kalau ia bukan orang yg menempuh pendidikan tinggi, mungkin saja dia tidak lulus SMP atau bahkan tidak lulus SD. Seseorang lulusan SMA yang tidak paham sekali bahasa inggris pun tidak mungkin salah menuliskan frasa diatas. Karena kata 'money' sendiri bukan kata yang susah dalam bahasa inggris, kata yg sering kita dengar.

4. Pekerjaan

Pekerjaan si penulis bisa apa saja, yang pasti bukan pekerjaan kantoran atau pekerjaan yg mapan. Dilihat dari Mungkin saja penjual koran, kuli bangunan, tukang asongan dll. Karena orang dengan pendidikan rendah pasti tidak memiliki pekerjaan yg mapan.

5. Situasi

Apa yang mendorong dia menuliskan itu? Mungkin ia ingin menunjukan betapa sulit keadaannya sekarang dan ingin sekali bekerja sekuat tenaga untuk mendapatkan uang. Mungkin ia ingin menunjukan betapa gigihnya ia.


Begitulah teman-teman, dari data yg sedikit itu, kami harus mencari tahu banyak informasi. Kak is juga memberikan contoh lain, yaitu dari pesan sms. Kita bisa tahu apa situasi si pengirim itu dari bahasa yg ia gunakan, pemilihan kata, peletakan tanda baca dll. Buatku materi ini sangat penting. Kami diminta menjadi penafsir "hermes".  Bagaimana kita bs mengaplikasikannya juga dalam pemeranan yaitu ketika kami menganalisa naskah. Kenapa si pengarang memilih kata ini? Bagaimana sebenarnya situasi si tokoh? Dan masih banyak lagi informasi yang kami peroleh dari data yg tersedia.






Tuesday, 7 October 2014

Hujan



Rindu sekali wangi hujan di sore yang penuh prasangka


Monday, 6 October 2014

Tempo - Ritme dalam Gerak



BAB XI
Tempo – Ritme Dalam Gerak
(“Membangun Tokoh” oleh Constantin Stanislavski)

Salah satu ciri dari makhluk hidup adalah begerak, baik itu makhluk hidup yang aktif seperti manusia dan hewan maupun makluk hidup yang pasif seperti tumbuh-tumbuhan. Gerak adalah sebuah proses mengalirnya energi melalui tubuh makhluk hidup untuk mencapai tujuan dalam satu rangkaian atau kesatuan yang tak terputus. Dalam fisika, gerak adalah perubahan posisi suatu benda terhadap titik acuan, titik acuan sendiri didefinisikan sebagai titik awal atau titik tempat pengamat. Sebagai seorang aktor, kita tidak bisa mengabaikan tiap gerakan kita diatas panggung, karena gerakan sekecil apapun akan tampak di mata penonton.  Dalam setiap gerak tubuh  manusia atau aktor  memiliki tempo dan ritme tertentu, itulah yang membedakan manusia satu sama lain. Dalam bab XI di buku Membangun Tokoh karya Stanislavski ini kita akan membahas lebih jauh tentang tempo-ritme dalam gerak. Tempo adalah cepat-lambatnya sebuah ketukan pada satuan-satuan  yang sama panjang dalam  birama yang tetap. Ada berbagai macam tempo yaitu lambat, sedang, cepat, sangat cepat dll. Ritme adalah hubungan kuantitatif satuan-gerak dengan panjangnya satuan dalam suatu tempo dan birama tertentu.
Marilah kita mengambil contoh yang sederhana. Misalnya ada dua peristiwa yang berbeda tempat dan waktu. Pertama, ada seorang narapidana duduk di ruang sidang dan baru saja mendengar putusan hakim kalau dia akan dihukum mati atas kasus pembunuhan yang sebenarnya tidak ia lakukan. Ia bangkit dari tempat duduk dan meninggalkan ruang sidang yang dihadiri oleh seluruh keluarganya. Kedua, seorang perempuan yang baru saja tahu kalau dirinya hamil setelah menunggu hal itu selama 7 tahun. Dia berlari dari kamar mandi dan tidak sabar untuk memberitahu suaminya yang sedang tidur pulas di ranjang.
Dari gambaran contoh diatas, kita bisa menemukan dua bentuk tempo-ritme gerak yang berbeda: langkah kaki, gestur seluruh tubuh juga berbeda, hal yang lain misalnya cara mengangkat kepala, menggerakan tangan, dll. Dari contoh itu pula kita mendapat kesimpulan bahwa seluruh tempo-ritme yang ada dalam setiap aktivitas fisik seseorang selalu dipengaruhi oleh suasana batin yang ada dalam dirinya. Jadi apa yang ada secara batiniah akan tampak secara lahiriah diatas panggung.
Dalam buku Membangun Tokoh, Stanislavski mengatakan bahwa :
Setiap hasrat manusia, setiap kehidupan, setiap pengalaman mempunyai tempo-ritme. Setiap gambaran batin atau gambaran lahir yang khas punya tempo-ritme tersendiri.........................Singkatnya, ada semacam tempo-ritme yang melekat pada setiap menit kehidupan dalam dan kehidupan luar kita. (2008;224)

Berdasakan kutipan diatas kita bisa mengatakan bahwa tempo-ritme tubuh seseorang selalu terpaut dengan tempo-ritme batinnya. Jika seorang aktor secara naluriah benar dalam merasakan apa yang diucapkan dan dilakukan diatas panggung, maka tempo-ritme yang benar akan tercipta dengan sendirinya. Dalam bab ini, Stanislavski memberikan banyak contoh bagaimana cara menentukan tempo-ritme dalam sebuah peristiwa. Misalnya seperti ini, Pak Torstov memberikan ketukan-ketukan menggunakan metronom, kemudian meminta murid-muridnya untuk menebak atau membayangkan peristiwa apa yang sedang terjadi dengan tempo-ritme seperti itu. Lalu sebaliknya, Pak Torstov meminta mereka untuk membayangkan sebuah peristiwa dan mengekspresikannya dalam sebuah ketukan tempo-ritme. Dalam hal ini peran imajinasi sangatlah penting, karena itulah yang membimbing kita untuk menemukan tempo-ritme itu.  
Apakah tempo-ritme hanya melulu tampak pada gerakan-gerakan yang besar saja? Bagaimana kalau seperti ini, seseorang yang putus asa dan bersedih lebih memlih duduk diam. Apakah masih bisa kita melihat dan menikmati tempo-ritme disana? Iswadi Pratama dan Ari Pahala menjelaskan dalam buku mereka Akting Berdasarkan Sistem Stanilavski Sebuah Pengantar :
Tempo-ritme itu memang tak kasat mata, tapi ada dan riil dalam dirinya, sebentuk arus emosi yang sangat halus atau bahkan penuh gejolak. Kita bisa melihatnya pada tempo-ritme tarikan dan hembusan nafas, sorot mata, atau perubahan air muka, cara dia menggerakan ujung jari, mengubah posisi duduk meski Cuma gerakan yang sangat keci. Kita bisa melihat tempo-ritme dalam semua laku fisik yang paling halus sekalipun. (2012;104)

Dari sini, kita menjadi paham bahwa apapun yang kita lakukan di kehidupan sehari-hari ataupun diatas panggung memiliki tempo-ritme, baik itu gerakan besar atau hanya sekedar duduk diam. Saya coba ambil contoh pengalaman saya, dalam lakon Buried Child ketika Shelly duduk diam mendengarkan cerita Alpian yang membongkar kebobrokan keluarganya. Pada adegan itu Shelly hanya diam mendengarkan cerita Alpian, tetapi ada tempo-ritme batin yang tumbuh dan tampak di mata penonton,dari gerakan tangan, cara mengangkat kepala, hembusan nafas, sampai gerakan bola mata. Pada saat itu saya menemukan banyak kesulitan, salah satunya adalah kurangnya impuls sehingga mempengaruhi tempo-ritme batin Shelly dan tampak di mata penonton melalui tempo-ritme luar. Pervis Sawoski dalam bukunya The Stanilavski System Growth and Methodology menytakan :
Tempo-rhythm can act as a powerful bridge between the inner experience and its physical expression. For Stanislavski, tempo-rhythm was both inner and outer.(Tempo-ritme dapat berperan sebagai jembatan yang kuat antara pengalaman batin dan ekspresi secara fisik. Bagi Stanislavski, tempo-ritme itu ada pada keduanya, baik dalam dan luar)

Tidak hanya aktor atau sebuah adegan saja yang memiliki tempo-ritme gerak, tetapi juga keseluruhan pertunjukan. Artinya tempo-ritme sangatlah besar untuk pergelaran apapun. Banyak sekali contoh kasus, sebuah pementasan yang bagus dan sudah digarap dan dimainkan dengan cantik, tidak berhasil karena ditampilkan dengan terlalu lambat atau terlalu terburu-buru. Kita sebagai aktor harus mengikuti tempo-ritme yang sudah disetel oleh sang sutradara. Salah satu cara kita menjaga tempo-ritme pertunjukan adalah dengan menyimak pertunjukan itu di set wing walaupun masih lama atau kita belum masuk ke panggung, seperti yang sudah kita terapkan di Teater Satu. Aktor harus menyimak dan ikut dalam tempo-ritme pertunjukan supaya ketika masuk ke panggung tempo-ritme itu sudah ada dalam tempo-ritme pertunjukan. Stanislavski mengatakan:
Dalam tradisi, pendahulu-pendahulu besar kita seperti Shcepkin, Sadovski, Shumski, dan Samarin selalu sudah ada di sayap panggungjauh sebelum saat kemunculan mereka di panggung, supaya mereka punya waktu yang leluasa untuk mengikuti dan menangkap tempo permainan yang sedang berlangsung. Itulah salah satu alasan mengapa ketika mereka masuk tampil hidup, bertenaga, tak mengada-ada, dan tepat dalam pembidikan nada permainan serta peran yang mereka bawakan dalam permainan itu. (2008;268)

Bisa kita lihat aktor-aktor sekelas mereka saja masih menyimak pertunjukan dari set wing sebelum giliran masuk ke panggung agar satu irama dengan pertunjukan. Saya jadi tersadar, lalu apakah layak aktor sekelas kita memiliki alasan untuk tidak mengikuti atau menyimak pertunjukan yang sedang berlangsung? Beberapa aktor di indonesia bahkan ada yang tidur dulu di ruang istrahat atau ruang ganti dan dibangunkan oleh asisten pribadinya apabila sudah hampir dekat giliran masuk panggung. Kenapa mereka tidak sekalian nongkrong di kantin dulu atau belanja ke pusat perbelanjaan dan akan di telpon oleh asisten pribadinya kalau sudah mau giliran naik panggung. Mana mungkin pementasan dengan jenis aktor yang seperti itu bisa menghasilkan pertunjukan yang bagus. Tempo-ritme pertunjukan tidak akan berlangsung baik dengan cara seperti itu. Dengan ini kita jadi tahu betapa pentingnya tempo-ritme pada sebuah pertunjukan. Setiap aktor harus saling menjaga tempo-ritme pertunjukan dengan baik agar tidak merusak keseluruhan pertunjukan.

Bandar Lampung, 5 Oktober 2014
Vita Oktaviana

Referensi
Stanislavski, Constantin, 2008. Membangun Tokoh Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Pratama, Iswadi dan Hutabarat, Ari Pahala, 2012. Akting Berdasarkan Sistem Stanilavski
            Sebuah Pengantar Lampung; Dewan Kesenian Lampung


Sawoski, Pervis, 2009. The Stanilavski System Growth and Methodology.




1.  Metronom adalah alat mekanikal yang digunakan para pemusik/pencipta lagu untuk menentukan tempo
      musik yang sedang mereka latih/buat.