Thursday 14 January 2016

Taining! Training!!!

Melakukan training lagi setelah beberapa bulan sibuk dengan kuliah materi di Teater Satu sedikit berat rasanya. Berat badannya sebenarnya hihi... Tubuh yang lama tidak bergerak harus mulai bergerak lagi. Seminggu ini kami memulai training untuk kelenturan tubuh.Teater Satu bahkan mendatangkan pelatih dari luar yaitu Surya yang seorang atlit silat dan penari. Training dimulai dengan melakukan pemanasan dipimpin Surya. Pemanasan kali ini durasinya lebih panjang dibanding dengan yang biasa kami lakukan ketika dipimpin oleh Gandi, guru olahraga yang juga aktor di Teater Satu. Selesai pemanasan kami lari selama 15 menit dilanjutkan dengan melakukan beberapa gerakan yoga yang sangat sulit seperti "Plank". Lari 15 menit saja terasa berat sekali melakukannya belum lagi ditambah plank 45 detik x 3 masing-masing untuk depan, kanan dan kiri. Berat sekali rasanya menobang tubuh sendiri, berkali-kali aku tak kuat menahan tubuh selama 45 detik, baru 15 detik saja sudah ambruk, lalu kuangkat lagi tubuhku. Berkali-kali Surya mengingatkan kepada kami untuk bertahan agar melampaui diri sendiri. Mungkin karena baru mulai training lagi jadi terasa berat, akh! Tak ada pemakluman, Training tetap training! begitu gumamku dalam hati, kalau dimaklumi terus mah tidak akan pernah maju.

Beres melakukan gerakan diatas kami lanjut dengan masuk ke dasar silat yaitu melatih kuda-kuda. Melatih kuda-kuda ke depan, kanan dan kiri secara sempurna. Gerakan jenis ini tak kalah berat dibanding sebelumnya. Tarikan otot paha yang sangat kencang merupakan penyebab tak kuat menahan stak gerakan kuda-kuda selama 45 detik x 3 untuk depan, kanan dan kiri. Lagi-lagi Surya mengingatkan kami untuk melampaui batas kemampuan kami. Dia meminta kami memukul paha apabila terasa mulai tak tahan melakukan kuda-kuda, asal jangan menyerah dan berdiri.


Sesi terakhir dari training adalah copying.. Sebuah bentuk gerakan yang melatih fokus pikiran, emosi dan fisik ini diwajibkan selalu kami lakukan setiap hari. Gerakan yang dilakukan oleh dua orang dan salah satu mengikuti gerakan telapak tangan lawan. Fokus sangat penting disini. Aku merasakan seperti ada energi yang saling mentransfer setiap kali melakukan bentuk ini. Ketika aku berpasangan dengan Baysa apalagi, ada hawa panas yang munguap begitu terasa, ada energi yang begitu besar matanya yang seperti akan di salurkan melalui telapak tanganku dan sebaliknya. Tubuh terasa segar bugar setelah selesai training. Menyenangkan!



Picts taken from: Google



Monday 26 October 2015

Apakah Proses Kreatif itu?

Pertanyaan seperti ini bisa timbul bagi sesiapa yang mengunjungi blog saya ini. Apa si maksud Mbak Vita ini kok kasih judul blognya Catatan Proses Kreatif ? ternyata arti yang saya sudah yakini itu benar dari makna "proses kreatif" bisa memiliki makna yang lebih dalam dan sedikit filosofis.

Semalam di Sanggar Teater Satu kami belajar tentang apa itu proses kreatif. Sebelum semalam, saya hanya tau kalau proses kreatif itu adalah proses dimana kita mencipta suatu karya, apa kesulitan dll. Semalam kak is menjelaskan bahwa proses kreatif itu sendiri adalah keberanian kita menempatkan diri untuk terus-menerus berada dalam situasi tegang menghadapi tantangan. Dalam proses kreatif itu ada tahapan atau levelitas yang harus dilalui oleh seniman/ilmuan dsb. agar tidak berhenti di satu level yang nyaman. Benar, bahwa tiap level memiliki tantangan, ujian, atau kesulitan yang berbeda dan terus meningkat seiring meningkatnya level kita. Apabila kita merasa nyaman, aman, tentram berada di satu level tanpa mencari atau menempatkan diri kita di dalam tegangan tantangan berarti kita sudah mencapai level The Confort Zone atau zona nyaman. Di zona nyaman ini kita akan menjalani proses tanpa ada tantangan, jadi yaa adem ayem saja tanpa kesulitan, dan di titik itu pengetahuan dan kemampuan kita juga akan mandek dan tidak berkembang, bahkan bisa jadi menyusut. Kehidupan seperti tidak bergerak, tak ada gejolak, medioker. Pakde' Ariestoteles juga mengatakan bahwa alam semesta ini tidak menyukai kehampaan "Nature Abhors a Vacuum" kehampaan yang dimaksud disini bukan kosong tanpa isi, tetapi kehidupan yang berhenti dan tidak bergerak. Jadi kalau kita terus mencipta dan bergerak berarti kita mengikuti kodrat alam.

Berdasarkan pelajaran tentang proses kreatif ini, ada hal yang juga sangat penting di sampaikan Kak Is semalam, yaitu tentang dua tipe seniman yang sering sekali kita jumpai dan gentayangan di sekitar kita. Seniman pertama adalah seniman status. Seniman tipe ini adalah seniman yang menjadikan  kenyamanan, kepastian, kemapanan, status, dan materi sebagai parameter kesuksekannya. Lalu diantara banyak parameter itu ia hanya menyelipkan karya sebagai parameter di tempat yang terpenil, nyempil, sedikit saja. Seniman Jenis ini jelas akan marah atau uring-uringan kalau doi gak diundang di fetival sastra internasional, diskusi sastra, pembicara dll. Tipe seniman yang kedua adalah seniman yang menjadikan karya sebagai parameternya. Seniman jenis ini akan selalu memikirkan karyanya bukan tentang pandangan orang lain terhadap diri dia secara individu, mereka akan terus menerus memeriksa karyanya dan belajar mencipta karya yang baik melalui proses kreatif itu tadi. Seniman jenis ini akan hidup jiwanya, merasa utuh dan damai dirinya ketika sedang gelisah berkarya bukan ketika ia dielu-elukan dan dipuja-puja oleh penggemar dan media atau mendapat jempol banyak di status facebooknya. hihihi...

So, tipe seniman jenis apakah kita???

Seperti kata Om Jalaludin Rumi "Lebih Baik Aku Berperang Dengan Pedih Daripada Bersantai, Di Jalan Ini Biarlah Aku Ditempa Dan Ditantang Terus"

Thursday 8 October 2015

Apa Yang Paling Kurindu dari Proses Teater?

Kalau suatu hari aku sudah tak lagi berteater dengan alasan yang pastinya sangat sulit untuk kuterima, misalnya tubuh yang sudah tak kuat lagi mengendarai motor atau menyetir mobil atau keadaan yang memaksaku pindah ke tempat yang jauh atau dekat, apa kiranya yang paling aku rindukan dari proses berteaterku ini? tiba-tiba pertanyaan itu menghampiriku malam ini. Kosong.

Bukan, bukan bagaimana tegangnya saat akan pentas, susahnya mencari akting yang pas untuk peran, tepuk tangan dan pujian penonton,  kritik dan ejekan penonton, menganalisa dan  menghapal naskah, mencari subtek, beradu argumen dengan teman, atau perjalanan tour pentas ke berbagai kota, melainkan perjalanan pulang dari sanggar kerumah. Kenapa? Apa-apa yang aku sebutkan diatas itu memang pasti akan aku rindukan, tapi perjalanan pulang dari sanggar ke rumah itulah yang paling kurindukan sepertinya sekarang ini yang kupikirkan, bisa saja berubah sebulan atau setahun lagi. 

Rumahku memang paling jauh dan paling rawan begal dibanding teman-teman lainnya. Aku juga tidak pernah merasa iri dengan teman-temanku yang rumahnya dekat dengan sanggar. Dengan jarak yang kurang lebih 30 KM dan letaknya di luar kota Bandar Lampung sebenarnya aku sendiri tak pernah merasa takut atau berpikir akan ancaman begal dll, bukan sombong, tapi ada hal besar yang bisa mengalahkan rasa takutku itu. 

Sepi jalanan, dingin angin, toko-toko sudah tutup, dan perasaan yang berkemelut yang tak tunai didalam diriku selalu menjadi kekuatan atau energi untuk  perjalanan pulang ku ini. Setiap hari memiliki rasa yang berbeda-beda. Dalam perjalanan ada perasaan gelisah  dan pikiran yang tak tunai, yang mengganjal, yang membuatku selalu ingin datang lagi esok dan kadang membuatku tak bisa tidur. Perasaan belum tuntas itu misalnya seperti ini, malam ini aku berdiskusi dan belajar tentang paragraf. Belum selesai diskusi itu sudah seperti di ingatkan selalu dengan larutnya malam. Waktu sudah hampir jam 12 malam dan pelajaran tentang macam-macam paragraf belumlah beres. Kami belum selesai memberi contoh penggabungan antara paragraf narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi dan persuasi dalam satu topik, tapi kami harus segera pulang. Pada situasi seperti itu, sungguh tak mengenakkan ketika perjalanan pulang. Di perjalanan aku memikirkan, ahh.. pelajaran belum tuntas dan besok belum tentu diulang lagi, pasti ada topik yang beda, ada pelajaran yang beda lagi, sementara pikiran masih gelisah. Contoh yang lain, ketika aku latihan "Buried Child" dan peran Selly ku coba tawarkan bentuk dan pilihan baru kepada sutradara, tapi ternyata bentuk baru itu tidak pas menurut sutradara. Dan bodohnya aku ngeyel dan tidak berterima dengan hal itu dan mengajak sutradara beradu argumen. Ketika di perjalanan pulang, pikiran dan perasaanku seperti diajak me-rewind lagi apa yang sudah  kulakukan tadi ketika di atas panggung, berdiskusi dengan teman atau sutradara. Ada penyesalan sudah melakukan kesalahan, penyadaran bahwa yang sutradara atau teman lain katakan itu benar,  ada ego yang tetap merasa tak mau kalah, ketidakpuasan dengan argumen yang dikatakan teman atau sutradara, ada rasa sakit hati karena dikritik, ada keriangan saat dipuji, ada kesenangan karena menerima pelajaran yang memang sangat dibutuhkan,  ada yang bersisa. Dalam perjalanan pulang itulah aku seperti merefleksi apa-apa yang sudah aku lakukan selama latihan hari ini, yang membuatku merasa ingin memperbaiki, menyesali, merasa kurang, merasa bodoh, merasa sombong, merasa benar, merasa sangat butuh kembali lagi ke sanggar. 

Perjalanan jauh, sendiri, sepi dan ada refleksi. Itulah mengapa aku sangat senang pada bagian itu di seluruh proses berteaterku, dan mungkin itu yang akan aku rindukan kelak. Bagiku, itu istimewa. Aku tidak tahu kenapa perasaan itu muncul ketika dalam perjalanan pulang, bukan ketika mau tidur atau mau berangkat latihan atau yang lainnya. Setelah hampir 8 tahun berteater, ternyata aku baru menyadari hal itu malam ini. Mungkin nanti kalau rumahku pindah jadi di dekat sanggar dan tidak ada lagi perjalanan pulang yang jauh, belum tentu aku merasakan hal istimewa itu. Aku harus menemukan situasi lain yang bisa menggantikannya, dan aku belum memikirkan itu apa. Karena memang tak ingin.

Tuesday 5 May 2015

Mainkan Sasaranmu!!!! #M&T

Hari itu, ketika melihat lima menit adegan yang diulang-ulang dan  di praktekan oleh Baysa yang berperan sebagai Madekur dan Okop yang berperan sebagai Tarkeni, ada sedikit catatan yang saya tangkap dan menurut saya sangatlah penting. 

Tiap aktor harus, kudu, wajib mengetahui apa sasaran utama perannya dalam suatu adegan, supaya apa yang kita lakukan di atas panggung beralasan dan logis. Pada sesi ini, Kak is meminta Okop dan Baysa untuk melakukan adegan Madekur dan Tarkeni mengobrol setelah bersetubuh di kompleks pelacuran. Kak Is meminta mereka menemukan sasaran utama adegan masing-masing. Maka ketemulah sebuah sasaran utama adegan mereka :

Sasaran utama Madekur : membujuk Tarkeni agar mau diajaknya menikah
Sasaran utama Tarkeni  : Menolak ajakan nikah Madekur

Pada adegan itu, mereka harus memainkan adegan sesuai dengan sasaranya. Madekur harus terlihat usaha kerasnya membujuk Tarkeni agar mau diajak nikah, dan agar sasaran utama Madekur berjalan lancar Tarkeni juga harus memainkan dengan baik sasaran utamanya, yaitu terlihat menolak ajakan Madekur untuk menikah. Jadi masing-masing memainkan sasarannya agar saling menguntungkan dan adegan itu tampak logis dan pas. Kalau salah satu dari mereka tidak memainkan sasaran utamanya dengan baik, maka sasaran utama lawan main pun tidak berjalan dengan baik dan adegan itu tidak akan tampak meyakinkan. mengapa seperti itu? karena ada aksi-reaksi yang tampak dan bekerja dengan logis disana. Misalnya seperti ini, ketika Madekur merayu Tarkeni agar mau di ajak menikah, ada aksi yang dilakukan Madekur disana dan itu harus direspon (reaksi) dengan baik oleh Tarkeni yang menolak diajak nikah, jadi, agar adegan Madekur mengajak merayu terkeni itu meyakinkan, Tarkeni harus bereaksi menolak yang sesuai dengan sasarannya. Masing masing harus memainkan sasarannya supaya sama-sama tercapai. 


Monday 27 April 2015

Metode lima menit adegan #M&T

Ada yang paling mendebarkan sekaligus memicu saya untuk terus belajar dan mencari, yaitu penerapan metode lima menit adegan yang diciptakan sendiri oleh Kak Is. Apakah itu? Metode lima menit adegan adalah metode dimana waktu menjadi patokan dengan cara mengulang adegan yang berlangsung selama lima menit dan terus-terusan diulang  sampai jadi. Metode ini biasa digunakan untuk menghemat waktu dengan tetap memperhatikan detail.


Metode ini bisa sangat digunakan untuk mereka yang memiliki jam latihan sedikit dan sudah dikejar deadline. Misalnya durasi pertunjukan satu jam, dan setiap hari memiliki waktu latihan selama 3 jam, dan waktu latihan tersisa tinggal satu bulan. Setelah proses casting dan reading selesai, mulai dengan masuk ke blocking. Bagi seluruh durasi pertunjukan menjadi lima menit, itu berarti menjadi 12 bagian dari durasi 60 menit tersebut. Setiap hari, coba dan matangkan satu bagian. Lima menit adegan diulang-ulang terus sampai matang selama tiga jam. cukup? pasti cukup! keesokan harinya bagian selanjutnya.. dan seterusnya sampai seluruh bagian menjadi matang, dengan waktu 12 hari. selanjutnya jahit seluruh bagian dari adegan tersebut menjadi suatu pementasan yang unity. Lima hari cukup untuk mengulang keseluruhan pertunjukan yang sudah dijahit rapi. Selama lima hari latihan dari awal sampai akhir sambil memasukan musik dan mencoba kostum. Singkat bukan? kita hanya butuh waktu 17 hari untuk membereskan keseluruhan adegan.


Yang sangat menguntungkan juga dari metode ini adalah detail yang tercipta. lima menit adegan yang selalu diulang selama sehari sesi latihan sungguh akan mencuri perhatian. Sutradara serta aktor akan lebih memperhatikan detailnya karena terfokus ke satu titik yang akan terus diulang. Kekeliruan akan tampak dan aktor serta sutradara yang menyadari itu akan segera memperbaikinya di waktu itu juga, tanpa menunda, jadi langsung diesekusi sampai pada akhirnya adegan itu matang.

Pada garapan Madekur dan Tarkeni kali ini, Kak is mencoba menerapkan di awal-awal latihan. Sayangnya hanya dua kali latihan yang diterapkan. Waktu itu adegan Madekur selesai bersetubuh dengan Tarkeni di kompleks pelacuran pada hari pertama dan adegan ayah-ibu kembar di hari berikutnya. Sesungguhnya metode ini sangat berjalan dan efektif, kenapa, karena saya merasakan sekali kak is mendirect dengan detail, tiap gerak gerik badan bahkan bibir dan bola mata sungguh diperhatikan benar atau tidak, sesuai atau tidak dengan subteks yang ada di naskah. Memang, saya melihat beberapa teman, termasuk saya juga merasa sedikit kesulitan karena harus diulang, ketika sedikit saja tidak pas, atau ketika lawan main kurang cekatan, harus mengulang lagi, begitu terus sampai dapat yang pas. Tapi buat saya, sensasinya itu asik, kami jadi fokus dan tidak main-main, belum lagi tiap malam harus mencari akting yang pas untuk adegan selanjutnya. Jadi tidak ada waktu untuk leha leha dan bersantai ria. Saya sedang meminta Kak Is untuk meneruskan menggunakan metode ini. semoga!

Menurut saya, metode ini akan berjalan lancar dan mulus dengan catatan begini, Aktor sudah beres menganalisa naskah, karakteristik peran  dan mengatasai segala masalah dasar keaktoran seperti tempo, irama, imajinasi dll. Selain itu, proses reading juga sudah beres yang itu artinya aktor juga sudah menemukan subteks, sasaran adegan, dan segala analisa yang ada di teks. Setelah semua sudah dikunyah dengan baik oleh aktor, barulah metode lima menit adegan ini bisa mulussss...... Saya kira itulah mengapa Kak Is tidak melanjutkan metode lima menit ini, karna kami belum mengunyah betul apa yang aktor butuhkan untuk memulai metode tersebut. Istilahnya, modal kami belum cukup, harus terus mencari. Padahal, sepertinya metode ini sangat ampuh!! tapi kami belum bisa menerapkan dengan baik.

Monday 20 April 2015

Menyusun Biografi Peran #M&T

Lanjut tentang proses Madekur & Tarkeni......

Untuk mengembangkan karakter kita dalam setiap peran, kita harus memiliki biografi dari peran itu. Agar ada sejarah dibalik apa yang kita lakukan dan kita bicarakan diatas panggung. Latar belakang karakter harus terbangun dengan apik sesuai dengan naskah atau Given Circumstance (Situasi-situasi terberi yang ada dalam teks berdasarkan sistem Stanylavski)  yang ada dalam teks. Kita tidak boleh mengarang bebas dalam membuat biografi, harus dicocokan atau disesuaikan dengan apa yang terberi dalam naskah, yang sesungguhnya menurut saya itu adalah sebuah petunjuk agar kita bisa mengembangkan biografi itu sendiri. Berikut akan saya share tentang biografi dari peran saya sebagai "Marni" (Ibu Tarkeni).

Peran : Ibu Tarkeni

Marni Wati(50) menikah dengan suaminya, Rahman(57) pada saat usianya 18 tahun. Pada masa itu umur segitu sudah disebut perawan tua, jadi mau tidak mau Marni harus menerima lamaran Rahman Sukoco, seorang pemuda anak teman bapak Marni. Awalnya perempuan yang kalauvberjalan langkahnya kecil-kecil tapi cepat ini tidak cinta dengan Rahman, tapi karena selalu bersama yaa lama kelamaan jadi sayang dan melayani suaminya. Marni dan Rahman dikaruniai 5 orang anak, dua laki-laki dan tiga perempuan. Tarsono(30tahun), Tarmizi(25), Tarkeni(21), Tarniah(18), dan Shinta Sari(15). Marni Wati anak tunggal sehingga semua warisan keluarga untuk ia dan keluarganya. Ada rumah dan sawah. Tetapi nasibnya tidak baik, Rahman tidak getol dan pandai bertani, setiap nanam gagal, akhirnya sawah di gadai untuk memenuhi kebutuhan dan tidak sanggup membayar gadai dan melayanglah sawah sedikit demi sedikit, sampai sekarang akhirnya kandas. Untuk memenuhi kebutuhan, Tarsono dan Tarmizi mengolah sawah orang lain kadang-kadang dibantu oleh Rahman, tetapi hasilnya sangat pas-pasan untuk makan seluruh anggota keluarga dalam rumah tua tetapi luas itu. Tarsono, istri, dan ketiga anaknya tinggal disitu, begitu juga istri dan seorang anak dari Tarmizi. Mereka hidup satu atap dengan kondisi yang pas-pasan sekali, pas untuk makan dan tidur. Mereka tinggal di lingkungan pedesaan yang mayoritas orang tani dan kebon. Di sebuah desa, di Pekalongan. Mungkin keadaan keluarga yang seperti itulah yang membuat Tarkeni ingin merantau ke Jakarta. Marni sehari-hari hanya menjadi ibu rumah tangga dan meladeni anak serta cucunya. 


Marni memiliki penyakit jantung karena keturunan dari bapaknya yang meninggal karena penyakit yang sama. Marni suka keluar keringat banyak di dahi, tangan dan lehernya. Ia juga memiliki rasa cemas yang berlebihan, seperti yang terjadi terhadap Tarkeni. Ketika ia dikejutkan oleh sesuatu, kadang bisa sampai pinsan. Perempuan berambut panjang itu nurut dengan suaminya, dan sabar tetapi bukan tidak berdaya. Ia selalu meladeni segala keinginan suaminya. Ia memiliki kehawatiran yang berlebihan dengan Tarkeni, itu artinya ia sangat open dan peduli dengan seluruh keluarganya. Keluarga ini beragama islam. Suku asli Jawa, dan mereka juga tinggal di desa yang hampir semua penduduknya orang Jawa.



Begitulah sedikit cerita tentang biografi singkat sebuah peran. Menurut saya ini masih kurang sangat banyak untuk sebuah biografi peran, kalau bisa sampai warna kesukaan, makanan dan minuman kesukaan dll. Sebegitu pentingkah memiliki biografi peran? Ya! Sangat penting! karena ini adalah modal awal seorang aktor dalam memainkan peran, agar akting yang dilakukan di atas panggung meyakinkan dan tidak kosong imajinasi. Misalnya seperti ini.. tidak ada adegan atau dialong yg menceritakan tentang anak-anak atau cucu dari Marni, hanya ada dialog bapak (Rahman) tentang memiliki anggota keluarga berjumlah 11 orang, Tapi disitu saya coba mencari kemungkinan, kira-kira 11 orang itu siapa saja dan mengapa tinggal satu rumah dll. Jadi ketika Bapak mengucapkan dialog itu dan si Ibu hanya meng-iyakan saja,  ada imajinasi yang muncul pada saat itu, Bukan hanya iya iya saja. Akan beda hasilnya ketika kita membuat biografi peran dan tidak. Ketika membuat biografi peran, dengan sendirinya peran itu menjadi hidup seperti seseorang yang kita kenal dan ada latar belakang atau cerita yang kita sebagai seseorang yang memerankan peran itu mengenal dengan baik pula.

Manfaat yang lain adalah munculnya kebiasaan fisik yg kadang terencana atau tidak muncul diatas panggung. Misal seperti ini, Marni adalah seorang ibu yang sabar, sehingga timbul pikiran pikiran seperti ini "oh, marni ini penyabar, kira kira apa yang dilakukan seorang ibu yang penyabar melihat anaknya ribut atau berdebat dengan suaminya, atau ketika melihat suaminya marah apa yang dilakukan dan bagaimana cara menunjukan kesabaran itu sehingga tampak dan meyakinkan di atas panggung" begitu lah... kalau bisa malah timbul ide seperti ini, bagaimana cara menunjukan kesabaran yang khas milik Marni dan tidak pasaran atau klise. Jadi itu adalah akting otentik milik si Marni.

Dalam menyusun biografi pun kita harus tetap mencari sesuatu yang sedikit ilmiah dan logis, Supaya tidak menjadi asal. Misal : situasi terberi tokoh Marni yaitu memiliki penyakit jantung. Nah, saya harus tahu apa penyebab penyakit jantung, lalu apa gejalanya, apa yang terjadi kalau kumat dll. Mungkinkah seseorang yang bisa dibilang hidup pas-pasan memiliki penyakit jantung? ya mungkin saja, tapi itu jarang terjadi, sehingga saya buat kalau penyakit jantungnya keturunan dari bapaknya yang dulunya orang "punya". Beberapa cerita kita susun secara logis sesuai teks yang ada, supaya tidak rancu dan malah membingungkan penonton. Ada dialog bapak yang mengatakan tentang sesuatu lalu dia menyebut "cangkul". Nah, dengan dialog cangkul itu, kira-kira profesi apa yang tepat untuk suaminya itu? tentu saja yg berhubungan denga cangkul. Jadi sekecil atau sesedikit apapun dialog yang ada di teks, bisa jadi itu sebuah petunjuk yang bisa kita kembangkan dalam menyusun biografi peran. Terus mencari petunjuk-petunjuk pengarang dengan cara membaca berulang-ulang teks itu sendiri dan menganalisa tentunya.

Itulah sedikit cerita yang bisa saya share tentang biografi sebuah peran.

Sunday 19 April 2015

Mengenal Tempo Tubuh pada Aktor #M&T

Seorang aktor yang baik harus memiliki kelenturan pada tubuhnya, karena tubuh adalah alat ekrpresi utama bagi seorang aktor. Salah satu hal yang penting diperhatikan oleh aktor adalah tempo tubuhnya. Kemarin seusai pemanasan fisik Kak Is mengajak kami untuk mencoba melawan tempo tubuh. Pada garapan Madekur dan Tarkeni kali ini, akan ada bentuk tarian ngibing dan semua aktor harus ikut dalam adegan itu. Beberapa kali mencoba gerakan atau tarian ngibing sepertinya masih kelihatan memaksa, dan tidak enak dilihat. Nah, karena itu Kak Is kemarin meminta kami utuk melakukan beberapa gerakan atau tarian yang mengikuti tempo yang diarahkan atau yang ada. Mulanya Ia memukul jimbei dengan satu tempo ketukan tertentu (Ketukan yang sama dengan adegan kuda lumping pada pementasan KKYM) dan kami diminta untuk bergerak mengikuti tempo musik. Tidak ada kesulitan yang berarti, karena kami memang familiar dengan ketukan musik itu, jadi kami bergerak sesuai tempo yang ada. Setelah lima menit istirahat, kami diminta untuk bergerak lagi dengan ketukan musik yang sama tetapi tidak boleh mengikuti tempo musiknya. haaaahh!!!! yapp.... kami mulai bingung! jadi kami harus bergerak melawan tempo atau ketukan musik yang ada yang memang sudah kami kenal. Rasanya itu sulit, hehe.. tubuh ini harus selalu disadarkan untuk tidak mengikuti tempo musik itu. Sudah pernah berjalan mundur? nah, kira kira begitulah sensasinya. Tiap gerakan harus sadaaar sekali dan sesungguhnya tidak bisa menikmati musik ataupun gerakan. Yang kami pikirkan cuma gerakan yang beda tempo saja. Tapi sensasinya menyenangkan, seperti keluar dari kebiasaan rutin gitu... hehee. Latihan ini juga bertujuan untuk menghindari keterpakuan terhadap suatu gerakan. misalnya saya kalau dengar ketukan atau tempo kuda lumping, selalu saja ingin menari atau bergerak seperti adegan kuda lumping, dan ini membuat saya jadi tidak memiliki gerakan yang variatif. Melakukan gerakan yang itu itu saja kan gak enak. hehe.. Beberapa efek fisik dirasakan oleh beberapa teman akibat melawan tempo itu. Misalnya kepala sedikit pusing dll. Tetapi kami tetap merasakan keasikannya melawan arus.